Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menulis Artikel

Menulis Artikel
(Bahan Orientasi Buku)

Buat apa menulis artikel pendek-pendek di media seperti ini? Apa semua dibaca orang? Apa tidak takut, ide-ide brilian dicuri lalu di-copy paste?

Demikian, pertanyaan yang menggoda. Semua ada risiko tentunya.

Dulu, ada beberapa dosen yang tidak mau menulis karya-karya populer di majalah atau koran. Media yang populer pada saat itu, sebelum mengenal media sosial yang berjejaring luas seperti saat ini. Mereka, dosen-dosen itu, beranggapan: tulisan di media mengurangi validitas ilmiah. Mengurangi marwah ilmiah yang harus dijunjung tinggi. Setahun lalu, sempat berjumpa seorang wakil rektor di perguruan tinggi Islam di Klaten; ia memberikan jawaban yang sama. Menuruni kualitas ilmiah, apalagi tidak ada bayarannya. Begitu pelit dia.

Sungguh. Ide itu seperti mata air, semakin dikeluarkan semakin berlimpah. Semakin jernih dan menyehatkan. Demikian pula, ide, gagasan, dan pikiran. Semakin dikeluarkan semakin bertambah detil-detil yang harus dipahami dan dicari kebenarannya. Curiosity. Rasa ingin tahu semakin menjadi-jadi. Lalu, bagaimana dengan honorarium? Bukankah dengan menulis di media resmi akan mendapatkan honor yang lumayan?

Itulah. Menulis pada tahap pertama itu mengumpulkan ide-ide. Setiap orang kadang ingin menjadi penulis handal, tapi tidak pernah mau memulai. Di dalam benaknya sudah ada gambaran gagasan tulisan yang besar-besar. Yang setaraf filosof atau pujangga. Tidak mau yang remeh temeh dan cengeng. Tidak mau berkeluh kesah, dan meluapkan perasaan. Demikian, ketegaran.

Cara terbaik untuk membuat karya yang besar adalah dimulai dari yang kecil-kecil. Dari tulisan yang pendek-pendek. Setiap tulisan yang pendek-pendek itu pasti ada pengulangan-pengulangan ide. Nah, di situlah persis intinya. Gagasan inti yang memerlukan stressing, penekanan. Tinggal lagi mengurai dalam sebuah sistematika kepenulisan dengan standar-standar ilmiah, seperti rujukan dan kode-kode katalog. Setelah selsai didiskusikan agar terdapat timbangan ulang untuk revisi. Dipublikasikan apabila perlu. Hal yang sering dibuat ceroboh oleh penulis-penulis adalah membuat revisi tulisan setelah dicetak menjadi buku. Buku revisi. Sebetulnya, tidak perlu. Buat saja buku baru dengan pengakuan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat pada buku sebelumnya, sehingga diketahui dan dapat diperbandingkan: mana yang salah (?) Seseorang berhak merekonstruksi sendiri pikiran-pikiran salahnya.
By
Bala putra dewa

Post a Comment for "Menulis Artikel "