Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tiga Pilar NU

Tiga Pilar NU
(Intelektual, Ekonomi, dan Pendidikan)

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi keagamaan-kemasyarakatan yang didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Sebelum resmi menjadi satu organisasi besar, NU didahului oleh tiga model perjuangan dan pergerakan yang dipelopori oleh kiai-kiai dan santri-santri progresif. Ketiga model pergerakan tersebut adalah Tashwirul Afkar, Nahdlatut Tujjar, dan Nahdlatul Wathan.

Santri-santri yang mengenyam pendidikan di Mekah menemukan suasana intelektual yang dinamis. Kota pendidikan internasional itu menampung berbagai latar belakang santri-santri yang datang dari berbagai negara. Santri-santri dari Nusantara (Jawi) cukup mendominasi dan setia pada mazhab. Transmisi pendidikan yang bersifat subordinasi tak jarang meningkat paralel. Santri-santri yang mumpuni di berbagai bidang disiplin ilmu kemudian menempati posisi istimewa sebagai imam mesjid sekaligus pengajar utama. Benih-benih pemikiran progresif muncul di sini, terutama mengenai kemerdekaan dan prinsip-prinsip nasionalisme. Nasionalisme dipelajari di Mekah, bukan dari bangku-bangku sekolah Belanda. Konflik antara kekhilafahan Turki-Usmani yang diwakili Syarif Husein di Mekah mendapat perlawanan dari Abdul Aziz bin Saud yang mendapat dukungan dari penguasa Inggris.

K.H. Abdul Wahab Chasbullah, seorang santri yang purna belajar dari Mekah, mendapat semangat dari pidato HOS Tjokroaminoto yang giat di Partai Serikat Islam (PSI). Bersama Haji Mas Mansur, Maun, dan KH Ahmad Dahlan Ahyad, K.H. Abdul Wahab Chasbullah mendirikan Tashwirul Afkar, sebuah forum diskusi progresif pada 1914 dan resmi dilembagakan pada 1918. Forum muzakarah ini merekrut kalangan muda untuk turut andil dalam pencerahan dan pergerakan nasional.

Di samping mendirikan lembaga Tashwirul Afkar, K.H. Abdul Wahab Chasbullah pada tahun yang sama (1918) juga mendirikan lembaga ekonomi yang diberi nama "Nahdlatut Tujjar", kebangkitan para pedagang. Hal ini merupakan respon positif terhadap tekanan politik pemerintah Negara Hindia Belanda yang represif. Di samping, persaingan pedagang-pedagang lokal yang tidak sehat. Perhimpunan para pedagang ini membentuk suatu koalisi dagang dalam merebut pengaruh dan memperkuat posisi pedagang-pedagang lokal yang kurang mendapat dukungan finansial, pendidikan agama, dan relasi.

Di dalam menciptakan kondisi yang sehat dan berkualitas diperlukan pendidikan bagi kalangan lokal (Bumiputera) dalam menghadapi kebijakan-kebijakan pemerintah Negara Hindia Belanda yang menerapkan strategi "Politik Etis". Merekrut tenaga-tenaga Bumiputera untuk dididik dan dipekerjakan pada instansi-instansi pemerintah Negara Hindia Belanda. Upaya melakukan pendidikan pada masyarakat Bumiputera ini melalui lembaga yang diberi nama "Nahdlatul Wathan", Kebangkitan Tanah Air. Lembaga kesadaran dalam bidang pendidikan yang dimotori pula oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullah pada 1914.

Dari ketiga pilar ini kemudian, NU terus mengembangkan upaya-upaya strategis lainnya, seperti organisasi kepemudaan (GP Ansor), organisasi ibu-ibu (Muslimat), organisasi kepemudian (Fatayat), dan lain-lain.

Bala putra dewa

Post a Comment for "Tiga Pilar NU"