Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Puasa


Puasa adalah



Puasa adalah ibadah yang wajib di laksanakan oleh setiap orang yang beragama Islam 
Dalam rukun Islam puasa menempati urutan ke 3 sesudah syahadat sholat kemudian yang ketiga adalah puasa 

Puasa wajib di laksanakan oleh orang Islam yang mukalaf
Syarat mukalaf yaitu

‌ Baligh

‌Berakal

‌Tablighu dakwah /sampainya dakwah

Adapun hikmah melaksanakan kewajiban puasa ini adalah menjadi pribadi yang bertaqwa Karana dengannya  manusia  selamat dunia dan akhirat sebuah jalan meraih ridho Allah SWT

Oleh karenanya menjadi wajib bagi setiap mukalaf segala sesuatu yang  yang berkenaan dengan puasa, Dari dasar hukum, Syarat-syarat, Rukun puasanya dan lainya.


1.     Dasar hukum pelaksanaan puasa

2.      Syarat dan Rukun puasa

3.      Hal-hal yang sunnah dalam berpuasa

4.       Yang membatalkannya puasa


Puasa adalah terjemahan dari Ash-Shiyam. 

Menurut istilah bahasa berarti Al imsak / menahan diri dari sesuatu dalam pengertian tidak terbatas. Arti ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Maryam ayat 26:

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمنِ صَوْمًا.

“sesungguhnya aku bernazar shaum ( bernazar menahan diri dan berbiacara ).

      “Saum” (puasa), menurut bahasa Arab adalah “menahan dari segala sesuatu”, seperti makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya.

  Menurut istilah agama Islam yaitu “menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa  mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.

       Menahan diri dari berbicara dahulu disyariatkan dalam agama Bani Israil. Menurut Syara’ (istilah agama Islam) arti puasa adalah sebagaimana tersebut dalam kitab Subulus Salam. Yaitu :

اَلْإِمْسَاكُ عَنِ اْلأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ وَغَيْرِهَا مِمَّا وَرَدَ بِهِ٬ فيِ النَّهَارِ عَلَي الْوَجْهِ الْمَشْرُوْعِ٬ وَيَتْبَعُ ذلِكَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الَّلغْوِ وَالرَّفَثِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْكَلَامِ الْمُحَرَّمِ وَالْمَكْرُوْهِ فِي وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ٬ بِشَرَا ئِطَ مَخْصُوْصَةٍ۰

“Menahan diri dari makan, minum, jima’ (hubungan seksual) dan lain-lain yang diperintahkan sepanjang hari menurut cara yang disyariatkan, dan disertai pula menahan diri dari perkataan sia-sia, perkataan yang diharamkan pada waktu-waktu tertentu dan menurut syarat-syarat yang ditetapkan

 Dasar hukum pelaksanaan puasa 


Dasar dari dalil  di wajibkan nya puasa ramadhan terhadap orang Islam adalah

a.       Firman Allah Swt., :

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَي الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ۰

Terjemahan nya : Wahai mereka yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa (Ramadhan) sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah-183).


b.      Sabda Nabi Saw., :

بُنِيَ اْلإِسْلَامُ عَلَي خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لآاِلهَ اِلَّا اللهُ٬ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ٬ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ٬ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ٬ وَصَوْمِ رَمَضَانَ٬ وَحَجِّ الْبَيْتِ۰

“Didirikan Islam atas lima sendi: mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan dan naik haji ke Baitullah.” (H.R Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

           

 Ayat dan hadist di atas  menerangkan bahwa wajib bagi orang orang beriman untuk melaksanakan puasa sebagaimana  orang orang sebelum mereka dan di dirikan nya Islam itu diantaranya  dengan mengerjakan puasa dengan demikian para ulama sepakat bahwa puasa hukumnya wajib di laksanakan 

    Adapun yang diwajibkan berpuasa itu adalah:
- orang yang beriman (muslim) baik laki-laki maupun perempuan (untuk perempuan suci dari haid dan nifas), 

- Berakal

- Baligh (dewasa)

- tidak dalam musafir (perjalanan) dan sanggup berpuasa.



Puasa Ramadhan dimulai  pada awal  bulan ramadhan sampe  tgl 29 atau 30 dengan salah satu sebab  sebagai berikut :

1.      Melihat bulan setelah terbenam  matahari pada tanggal  29 (akhir) Sya’ban.

2.      Penetapan Hakim Syar’i berdasarkan keterangan saksi, bahwa ia melihat bulan  sekurang-kurangnya seorang laki-laki.


3.      Penetapan dengan ahli hisab (perhitungan) 

a. Apabila bulan tidak terlihat, maka bulan Sya’ban disempurnakan 30 hari. 


 b. Keterangan orang yang dapat dipercaya kebenarannya oleh penerima berita, bahwa ia melihat bulan Ramadhan.

4.      Dengan hisab sebagaimana firman Allah. Swt. :

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُوْرًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ٬ مَاخَلَقَ اللهُ ذلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ٬ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُوْنَ۰

Artinya: “Allah yang telah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta diaturnya tempat perjalanan, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hitungan (hisabnya). Tuhan tidak menjadikan semuanya itu kecuali dengan pasti. Tuhan menerangkan segalanya (tandaan) dengan ayat-ayat-Nya bagi semua orang yang berpengatahuan. (QS. Yunus-5).


Di tambah dengan sabda Rasulullah Saw. :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوْا٬ إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَافْطِرُوْا۰ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ.

  Artinya: “Dari ‘Umar ra., Rasulullah Saw., bersabda : Apabila kamu melihat bulan Ramadhan, hendaklah berpuasa dan apabila kamu melihat bulan Syawal hendaklah kamu berbuka. Maka jika tidak tampak olehmu, maka hendaklah kamu perhitungkanlah jumlahnya hari dalam satu bulan”. (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah)


   Syarat Puasa

1.      Syarat-syarat wajib berpuasa

a.       Islam
 Orang yang beribadah puasa haruslah orang Islam 

b.  Baligh dan berakal ;.
Orang yang berpuasa telah baligh atau dewasa dan berakal tidak mengalami gangguan kejiwaan adapun anak-anak belumlah diwajibkan berpuasa ; tetapi boleh diajak berpuasa sebagai latihan.

c.       Suci dari haid dan nifas (ini bagi wanita)

d.    Mampu dan   Kuasa (ada kekuatan). Kuasa disini artinya, tidak sakit dan bukan yang sudah tua. Orang sakit dan orang tua, mereka ini boleh tidak berpuasa, tetapi wajib membayar fidyah.


2.      Syarat-syarat sahnya puasa

a.       Islam.

b.      Tamyiz. Bisa membedakan yang salah dan benar bisa membedakan A dan B

c.     Suci dari haid dan nifas. 

Tidak Syah jika Wanita yang sedang haid dan nifas  berpuasa, tetapi wajib qadha pada waktu lain, sebanyak yang ia tinggalkan.

d.  Mengetahui waktu puasa atau   tidak di dalam hari-hari yang dilarang untuk berpuasa, yaitu diluar bulan Ramadhan ; seperti puasa pada hari Raya Idul Fitri ( 1 Syawal), Idul Adha (10 Zulhijjah), tiga hari tasyrik, yakni hari 11, 12 dan 13 Zulhijjah, hari syak, yakni hari 30 Sya’ban yang tidak terlihat bulan (hilal) pada malamnya.

   Rukun Puasa

1.  Niat ;

 yaitu menyengaja  akan melaksanakan puasa Ramadhan, setelah terbenam matahari hingga sebelum fajar shadiq. Artinya pada malam harinya, dalam hati telah tergerak (berniat), bahwa besok harinya akan mengerjakan puasa wajib Ramadhan. Adapun untuk  puasa sunnat, boleh niatnya dilakukan pada pagi harinya selama tidak melaksanakan yang membatalkan puasa


2.   Meninggalkan segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Berdasarkan Firman Allah Ta’ala :


فَالْئنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّي يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوْا الصِّيَامَ إِلَي الَّيْل۰

Artinya: “Maka sekarang, bolehlah kamu mencampuri mereka dan hendaklah kamu mengusahakan apa yang diwajibkan Allah atasmu, dan makan-minumlah hingga nyata garis putih dan garis hitam berupa fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.

            Yang dimaksud dengan garis putih dan garis hitam ialah terangnya siang dan gelapnya malam. Sabda Nabi Saw :

إِنَّمَا ذلِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ

Artinya: “Maksudnya ialah gelapnya malam dan terangnya siang”


   Hal yang membatalkan puasa


1. Memasukkan sesuatu kedalam lobang rongga badan dengan sengaja, seperti makan, minum, merokok, memasukkan benda ke dalam telinga atau ke dalam hidung hingga melewati pangkal hidungnya

Adapun suntik di lengan, di paha, di punggung atau lainnya yang serupa, tidak membatalkannya, karena di paha atau punggung bukan berarti melalui lobang rongga badan.

2.  Muntah dengan sengaja; muntah tidak dengan sengaja tidak membatalkannya.

3. Haid dan nifas; wanita yang haid dan nifas haram atau di larang  melaksanakan puasa, tetapi wajib mengqodha waktu haid dan nifas.

4.      Jima’ pada siang hari.
Ji'ma berarti berhubungan intim dengan pasangan yang Syah  istri atau suami walaupun  jima ini boleh  tetapi ketika puasa maka jima dapat  membatalkan puasa dan mendapat hukuman berat yaitu qodha puasa 2 bulan berturut-turut 


5.      Gila walaupun sebentar.

Kehilangan akal akibat gila walaupun sebentar 

6.      Mabuk atau pingsan sepanjang hari.

7.      Murtad, yakni keluar dari agama Islam.

Perlu diterangkan Kembali  tentang sangsi orang yang jima’ (berhubungan intim ) pada siang hari di bulan Ramadhan; Orang yang berjima’ (melakukan hubungan kelamin) pada siang hari bulan Ramadhan, puasanya batal. Selain itu ia wajib membayar denda atau kifarat, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah Saw. :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا وَقَعَ بِامْرَأَتِهِ فِي رَمَضَانَ فَاسْتَفْتَي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذلِكَ٬ فَقَالَ: هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً ؟ قَالَ: لَا. وَهَلْ تَسْتَطِيْعُ صِيَامَ شَهْرَيْنِ ؟ قَالَ: لَا. فَأَطْعِمْ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا. (رواه مسلم).

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya seorang laki-laki pernah bercampur dengan istrinya siang hari pada bulan Ramadhan, lalu ia minta fatwa kepada Nabi Saw. : “Adakah engkau mempunyai budak ?. (dimerdekakan). Ia menjwab : Tidak. Nabi berkata lagi : “Kuatkah engkau puasa dua bulan berturut-turut ?”. Ia menjawab : Tidak. Sabda Nabi lagi : “Kalau engkau tidak berpuasa, maka berilah makan orang-orang miskin sebanyak enam puluh orang”. (HR.Muslim). 

   Hal-hal sunnat dalam berpuasa


1.      Menyegerakan berbuka puasa 

2.      Berbuka dengan yang manis atau  kurma, atau dengan air.

3.      Berdoa sewaktu berbuka puasa.

4.      Makan sahur untuk menambah kekuatan melaksanakan puasa

5.      Mengakhirkan makan sahur sampai kira-kira 15 menit sebelum fajar.

6.      Memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang puasa.

7.      Memperbanyak sedekah selama dalam bulan puasa.

8.      Memperbanyak membaca Alquran dan mempelajarinya 


Selain puasa wajib ada juga puuasa sunat yang perlu di ketahui karna banyak macamnya 
  


Puasa sunnat adalah puasa yang apabila di kerjakan mendapatkan pahala dan tidak di siksa apabila kita tidak mengerjakannya . Di antara puasa-puasa sunnat ini ialah :

1.     Puasa nabi Daud yaitu  Berpuasa sehari dan berbuka sehari maka jika sebulan ada 30 hari maka kita telah berpuasa selama 15 hari 


2.      Puasa enam hari  di bulan Syawal.
Pada bulan sawal selain hari raya di sunatkan puasa enam hari 
Bisa di awal  dengan jumlah enam hari bisa dilaksanakan enam hari  selama bulan sawal yang terpenting enam hari


3.      Puasa hari Arafah (tanggal 9 bulan haji), kecuali orang yang sedang mengerjakan ibadah haji, maka puasa ini tidak disunnatkan atasnya.

4.      Puasa hari Asyura (hari yang kesepuluh dari bulan Muharram).

5.      Puasa hari senin dan kamis.

6.      Puasa ayyamul bidh atau biasa di sebut puasa tiga hari pada tiap bulan ; dalam hubungan ini berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15 tiap bulan berpuasa pada hari putih.

7.      Puasa Sya’ban.

Penutup


Ibadah puasa adalah ibadah sebelumnya sudah di syariatkan ke pada umat sebelum umat nabi Muhammad Saw dan mempunyai banyak manfaat puasa menurut kesehatan maupun menurut hadist

Kesemuanya menjadikan jalan supaya orang orang mendapatkan predikat orang yang bertaqwa  
Yaitu termasuk golongan orang yang menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala yang di larangnya 


Post a Comment for "Puasa"